Karya: Iriani Fermatasari
Singgahmu pada hati yang terjal
Tak lekang meski seiring bergantinya masa
Semilir angin menyentuh lembut kulitmu
Aku terisak
Menggemakan namamu berbalut asa tanpa suara
Menggemakan namamu berbalut asa tanpa suara
Menerangi gelapmu dibalik heningmu
Tanpa paksaan,
Hanya berlalu melaluinya
Hanya berlalu melaluinya
Pernah kucoba menjauh
Meski dalam lilitan harapan
Napasku sesak
Tak gentar kuperangi hantaman rasa itu
Meski dalam lilitan harapan
Napasku sesak
Tak gentar kuperangi hantaman rasa itu
Hingga ku kutuk diriku sendiri
Aku tak mampu
Sebab seketika tertarik kembali layaknya magnet
Aku tak mampu
Sebab seketika tertarik kembali layaknya magnet
Dinding apa yang menghalanginya, Tuhan?
Enggan beranjak
Enggan terlepas
Enggan terlepas
Tak goyah meski tersapu ombak menerkam
Bergeming menatap nanar sang pujaan dalam bayangan
Gemuruh batinku tergores dan terluka
Terkurung dalam labirin yang tak berujung
Semua jalanku seakan gelap
Semua jalanku seakan gelap
Lelah diri ini tertatih-tatih
Menatap dan meratapi
Menatap dan meratapi
Belenggu sederet kisah klasik antara kau dan aku
maaf yaa readers kalo puisinya aneh, maklum masih amatiran...hahaha :D
Picture: googling
Take this out with full credits!!
0 komentar:
Posting Komentar